Welcome To My Blogger

MAN 2 MODEL VS EXGONER

Kamis, 25 Februari 2010

AFRIKA ADALAH BENUA TEMPAT LAHIRNYA HOMO SAPIENS

Dengan tanahnya yang gersang, kurang hujan, dan penduduk yang terus bertambah, Afrika dapat dengan amat baik menyiratkan masa depan spesies kita. Karena berbagai sebab—kurangnya prasarana, korupsi, pasar yang tak terjangkau—revolusi hijau tidak pernah sampai ke sini. Produksi pertanian per kapita malah menurun di Afrika sub-Sahara antara 1970 hingga 2000, sementara jumlah penduduk meningkat pesat, mengakibatkan defisit pangan sepuluh juta ton tiap tahun. Benua itu kini ditempati oleh lebih dari seperempat dari total jumlah orang terlapar di dunia.

Malawi yang kecil dan tidak berpantai, yang disebut “hati Afrika yang hangat” oleh industri pariwisata yang optimistis, juga berada di jantung Afrika yang lapar adalah contoh sempurna tentang derita pertanian di benua itu. Mayoritas penduduk Malawi, salah satu negara termiskin dan terpadat di Afrika, adalah petani jagung yang menyambung hidup dengan sekitar dua puluh ribu rupiah sehari. Tahun 2005 kekeringan kembali melanda Malawi dan sepertiga lebih dari penduduknya yang berjumlah 13 juta jiwa perlu bantuan pangan untuk bertahan hidup. Presiden Malawi Bingu wa Mutharika menyatakan bahwa dia dipilih bukan untuk memimpin negara pengemis. Setelah awalnya gagal membujuk Bank Dunia dan donatur lainnya untuk menyubsidi proyek revolusi hijau, Bingu memutuskan untuk membelanjakan sekitar 580 miliar rupiah dari kas negara untuk mendistribusikan bibit hibrida dan pupuk kepada petani miskin. Bank Dunia akhirnya mendukung upaya Malawi dan meminta Bingu menargetkan subsidi itu kepada para petani yang termiskin. Sekitar 1,3 juta keluarga petani menerima kupon pembelian tiga kilogram bibit jagung hibrida serta dua karung pupuk 50-kilogram dengan harga sepertiga dari harga pasar.

Tidak ada komentar: